Langsung ke konten utama

Perusahaan Sukanto Tanoto Menjalankan Konsep Circular Economy

circular ekonomi
Img source: inside-rge.com

Didirikan pada 1973, Royal Golden Eagle diarahkan oleh Sukanto Tanoto supaya tidak hanya mengedepankan produktivitas bisnis. Perusahaannya itu juga diharapkannya ikut aktif menjaga bumi. Penerapan konsep Circular Economy menjadi salah satu langkahnya.

Sukanto Tanoto dikenal sebagai pengusaha dengan visi jauh ke depan. Ia mampu mengembangkan sumber daya menjadi produk-produk dengan nilai ekonomis tinggi. Itulah yang membuatnya mendapat julukan sebagai Raja Sumber Daya.

Sebutan itu tidak berlebihan ketika melihat kiprahnya bersama Royal Golden Eagle. Mengawali semuanya dengan nama Raja Garuda Mas, ia mampu menjadikannya sebagai korporasi kelas internasional. Hal itu yang membuat transformasi nama menjadi RGE dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka telah berkembang menjadi perusahaan lokal ke arah global company.

Akan tetapi, keberhasilan itu tidak membuat Sukanto Tanoto hanya mengejar keuntungan bisnis belaka. Ia berpikir sebaliknya. Dirinya merasa pihaknya harus bisa menghadirkan manfaat bagi pihak lain khususnya alam yang telah memberinya banyak hal. Pria kelahiran Belawan ini yakin jika dirawat, bumi akan memberi semakin banyak.

Oleh karena itu, perusahaan Sukanto Tanoto menjalankan konsep Circular Economy sebagai upayanya untuk aktif merawat bumi. Lalu, apa sebenarnya Circular Economy tersebut?

Ini adalah konsep yang dicanangkan oleh Ellen MacArthur Foundation untuk memperbaiki kondisi bumi. Selama ini, mereka mencatat ada kesalahan pola pikir yang bisa merusak alam secepatnya.

Dalam sistem produksi dikenal dengan model ekonomi Take, Make, and Dispose. Secara mudah, ini adalah pola atau model ekonomi linier yang sudah lazim di dunia.

Untuk membuat sebuah produk, perusahaan mengambil sumber daya. Sesudahnya hadir limbah sebagai buangan produksi. Bahkan, sebuah produk pun akhirnya menjadi sisa ketika nilai gunanya sudah habis atau selesai.

Kondisi itu tidak bagus bagi bumi dalam jangka panjang. Sumber daya akan terus terpakai sehingga lama-kelamaan akan habis. Selain itu, sisa-sisa limbah yang tidak berguna juga akan terus menumpuk. Hal ini akan menimbulkan kerugian besar kelak kemudian hari.

Oleh sebab itu, perilaku seperti itu mesti secepatnya diubah. Penerapan  pola pikir baru seperti Circular Economy menjadi wujud nyatanya. Sistem ini berbeda jauh dengan Take, Make, and Waste yang merupakan sistem ekonomi linier.

Di dalam Circular Economy terdapat target untuk membuat green business untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Sistem ini memerhatikan sejak sisi hulu, tempat sumber daya alam berada, di tengah (bagian desain hingga proses), dan di hilir (pengguna).

Selain itu, Circular Economy juga bebas sampah. Pola ini menjaga produk, komponen, dan bahan produksi berada pada utilitas serta nilai tertinggi semaksimal mungkin sehingga bisa digunakan.

Secara singkat, pola ini membuat sumber daya yang dimanfaatkan dikelola dengan baik. Akibatnya penggunaannya efektif dan yang diambil seminimal mungkin. Cara pengolahannya juga bertanggung jawab. Bahkan, sebisa mungkin tidak ada sisa yang terbuang percuma. Kalaupun ada, jumlahnya minim dan berguna untuk menghasilkan sumber daya berikutnya.

Ada tiga prinsip utama dalam Circular Economy. Pertama adalah menjaga dan meningkatkan natural capital. Selanjutnya ialah mengoptimalkan lahan sumber daya dengan mensirkulasi produk, komponen, dan material pada titik penggunaan paling tinggi. Sedangkan yang ketiga yakni memelihara efektivitas sistem dengan mendesain eksternalitas yang bersifat negatif.

Belakangan Circular Economy semakin mendapat perhatian. Konsep ini diminati dan dilaksanakan oleh berbagai pihak. Karena dirasa positif untuk alam, perusahaan Sukanto Tanoto juga mengadopsi pola pikir tersebut. Mereka menjalankan model ekonomi melingkar ini supaya kelestarian lingkungan terjaga.
Bagaimana saja bentuknya? Ini adalah realisasi penerapan konsep Circular Economy di berbagai anak perusahaan Royal Golden Eagle.

APRIL GROUP
april group
Img source: inside-rge.com

APRIL Group merupakan perusahaan Sukanto Tanoto yang bergerak dalam produksi pulp and paper. Per tahun, mereka mampu memproduksi pulp sebanyak 2,8 juta ton serta kertas 850 ribu ton.

Perusahaan yang memiliki basis utama di Pangkalan Kerinci, Riau, ini juga menjalankan konsep Circular Economy dalam proses produksinya. Pertama, untuk mendapatkan bahan baku, APRIL menanam pohon akasia dan eukaliptus sebagai sumber fiber. Mereka merawatnya hingga lima tahun dengan proses yang ramah terhadap alam. Sesudahnya, pohon dipanen dan diolah menjadi pulp and paper.

Dalam pengolahan, pabrik perusahaan Sukanto Tanoto ini sangat efisien. Mereka memanfaatkan air dan energi seminimal mungkin. Ketika sudah dipakai pun sistem di dalamnya memungkinkan untuk digunakan lagi. Akibatnya, sekitar 90 persen air bisa dipakai lagi untuk proses produksi yang baru.

Terkait energi, APRIL dengan jeli mampu mengolah limbah sisa hasil produksi untuk menjadi sumber tenaga listrik. Mereka mengolah biomassa sehingga 85 persen kebutuhan energi pabrik dipatok dari sana.

Sesudahnya produk pulp and paper dihasilkan. Namun, perusahaan Sukanto Tanoto ini sudah mendesainnya supaya produk bisa didaur ulang untuk proses produksi baru.

Ketika tidak dipakai lagi pun produk-produk pulp and paper bisa terdregadasi secara alami. Akibatnya, sisa produk bisa menyatu lagi ke alam secara alami hingga akhirnya malah mendukung untuk perkebunan bahan baku berikutnya.

ASIAN AGRI
asian agri
Img source: inside-rge.com

Asian Agri merupakan salah satu perusahaan Sukanto Tanoto yang beroperasi dalam sektor kelapa sawit. Dengan luas lahan perkebunan mencapai 160 ribu hektare, mereka mampu menembus kapasitas produksi satu juga ton per tahun.

Seperti perusahaan Sukanto Tanoto yang lain, Asian Agri juga menjalankan Circular Economy di dalamnya. Salah satu aspek yang paling menarik adalah penekanan terhadap pemanfaatan limbah produksi secara efisien.

Dalam proses produksi kelapa sawit terdapat sisa limbah cair yang menjadi buangan. Dulu, oleh Asian Agri, limbah diolah untuk kemudian dimanfaatkan sebagai penunjang perkebunan seperti menjaga kelongsoran atau pembatasan lahan.

Akan tetapi, Asian Agri akhirnya dengan jeli berhasil memanfaatkan limbah cair tersebut menjadi sumber energi. Dengan teknologi pengolahan dari Jepang, mereka dapat menjadikannya sebagai sumber energi listrik tenaga biogas.

Berkat ini, tidak ada lagi limbah yang terbuang percuma. Asian Agri memanfaatkannya sebagai energi untuk memutar operasionalnya. Bahkan, itu malah membuka kesempatan untuk memberi dukungan positif kepada pihak lain.

Lihat saja, satu pembangkit listrik tenaga biogas yang didirikan Asian Agri mampu menghasilkan listrik hingga 2 megawatt. Energi sebanyak 700 kilowatt dipakai untuk operasional perusahaan. Akibatnya ada sisa energi listrik 1,3 kilowatt. Inilah yang akhirnya disalurkan oleh perusahaan Sukanto Tanoto tersebut ke masyarakat di sekitarnya.

Lebih hebat lagi, Asian Agri tidak hanya memiliki satu pembangkit listrik tenaga biogas. Sampai saat ini sudah ada tujuh fasilitas yang mereka bangun. Namun, mereka masih ingin menambahnya hingga menjadi 20 sampai pada tahun 2020 nanti.
Itulah beberapa contoh penerpan Circular Economy di dalam grup Royal Golden Eagle. Mereka menjalankan operasionalnya secara bertanggung jawab dan ramah terhadap lingkungan. Ini selaras dengan arahan pendirinya, Sukanto Tanoto. Ia memang menginstruksikan agar semua pihak di perusahaannya selalu peduli terhadap kelestarian alam.

Komentar